Oleh: Y   Sempat ragaku lupa akan ketidakhadiranmu Waktu ku selalu dipenuhi olehmu Tak ada satupun duniaku tanpamu   Pertemuan kita layaknya rutinitas Hanya untuk menuntaskan keinginan hati Perjalanan kita layaknya pena Yang terus menari dengan tajamnya Terjatuh, dan terbentur Demi menampilkan karya terbaiknya   Dulu, Tubuhku hangat di dekatmu Tersimpul senyum tipis bahagiaku Memanggil memoriku akan momen itu   Dan, sekarang Bukan ku tak lagi denganmu Hanya raga yang terpisahkan rindu Menatap matamu, mendengar tawamu, menyentuh pundakmu Merasakan pilu, sendu, dan candu denganmu   Terima kasih, jarak Aku belajar untuk lebih menghargaimu Terlebih waktu bersamamu Terima kasih, JARAK Jauh Amat, Rindu Akut, KupadamuRead More →

Oleh: P.Rifai “Egois! Egois! Egois!” Sudah sejak setengah jam yang lalu Arina terus mengomel pada ketiga sahabatnya yang bahkan tidak lagi peduli akan apa yang dikatakan gadis itu. “Kok, bisa-bisanya sih, sahabat ngejebak sahabatnya sendiri?” tanya Arina hampir menangis. “Kok, bisa-bisanya sih, ada sahabat yang gak solid kayak kamu?” balas Marha dengan ekspresi sebal. “SIAPA BILANG?” tanya Arina setengah membentak. “Solid itu bukan berarti aku harus selalu bareng sama kalian! Aku selalu dukung kalian pergi ke sana, tapi aku gak mau ikutan mati!” “Arina,” ucap Bima tenang. “Kita ini sahabat kamu. Kita gak akan mencelakakan kamu. Kita ajak kamu karena kita tahu ini gak bahaya.”Read More →