AUTISM 101

AUTISM 101

Hi, Treaders! Kalian pasti sering banget kan dengar kata “autis” di kehidupan sehari-hari? Mulai dari sekadar meledek teman, sampai benar-benar bertemu individu yang menderita autisme. Tapi, apa sebenarnya autisme itu, sih? Yuk kita belajar bareng-bareng!

Sebelum tahun 2013, autisme dianggap ada berbagai jenis, seperti Autistic Disorder, Asperger’s Syndrome, dan Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS). Namun, sekarang, semua jenis ini diklasifikasikan dalam sebuah spektrum luas yang disebut dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Penderita ASD biasanya memiliki karakteristik, sebagai berikut:

  • Masalah bersosialisasi, seperti kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. (Contoh: tidak memberikan eye-contact ketika berbicara kepada lawan bicara, tidak menyahut ketika dipanggil, dan perilaku lainnya)
  • Perilaku repetitif (contoh: hand-flapping, head-banging), serta minat atau aktivitas yang terbatas
  • Gejala yang biasanya dikenali dalam dua tahun pertama kehidupan
  • Gejala yang membuat individu kesulitan untuk berfungsi secara sosial, di sekolah atau pekerjaan, atau bidang kehidupan lainnya, karena individu dengan autisme sulit untuk melihat hal dari perspektif orang lain.

Treaders mungkin bingung ya, bagaimana bedanya jenis-jenis yang termasuk dalam spektrum ASD itu, sih?

Pertama, Asperger’s Syndrome. Kelainan ini merupakan jenis dalam ASD yang dianggap lebih “ringan” dibandingkan jenis lainnya karena penderita Asperger memiliki kemampuan kognitif yang normal dan tidak mengalami penundaan kemampuan bahasa yang signifikan. Mereka juga dapat menangani kehidupan sehari-hari. Hanya saja, mereka sangat kesulitan dalam hal bersosialisasi. Lalu ada juga Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS), diagnosis yang diberikan ke individu yang perilakunya masuk ke dalam ASD, tetapi tidak memenuhi seluruh kriteria untuk menjadi Autistic Disorder. Jadi, orang-orang yang didiagnosis dengan PDD-NOS belum tentu memiliki gejala yang sama, Treaders. Kemudian ada Autistic Disorder atau yang biasa dikenal dengan autisme klasik. Diagnosis ini dianggap lebih “berat” dibandingkan dengan jenis yang tergolong ASD lainnya. Checklist untuk mendiagnosis individu dengan kelainan ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu interaksi sosial, komunikasi, perilaku repetitif, dan masalah sensorik.

Untuk penyebab dari ASD, peneliti juga masih belum dapat menemukannya. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa gen dan lingkungan memegang peran penting munculnya ASD.

Faktor risiko meliputi, sebagai berikut:

  • Gender (laki-laki lebih mungkin didiagnosis dengan ASD daripada perempuan)
  • Memiliki saudara yang memiliki ASD
  • Umur orang tua (bayi lahir dari orang tua yang ibunya berusia 35 tahun, atau lebih, dan atau ayahnya yang berusia 40 tahun, atau lebih)
  • Genetik (sekitar 20% anak-anak dengan ASD juga memiliki kondisi genetik tertentu, seperti sindrom Down, sindrom X, dan Sklerosis Tuberosa)

Deteksi dan terapi sedini mungkin sangat penting karena dapat memudahkan penderita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Walaupun ada yang harus terapi seumur hidup, ada juga penderita ASD yang dapat mengikuti sekolah umum, menjadi sarjana dan mendapat pekerjaan layaknya orang normal. Namun, pemahaman dari teman sekolah dan kolega seringkali dibutuhkan, misalnya tidak menyahut, tidak memandang mata si pembicara ketika diajak berbicara, dan lainnya.

Nah, segitu dulu dari Trimagz mengenai ASD, semoga dapat membantu Treaders untuk memahami lebih jauh mengenai ASD yaaa.

“Children with autism are colourful – they are often very beautiful and, like the rainbow, they stand out.” – Adele Devine (Shabrina Adani/Chin)

 

Referensi:

https://www.nationalautismresources.com/

http://www.webmd.com/

https://www.nimh.nih.gov/

http://raisingchildren.net.au

foto from google.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *