Palmistry: Bisakah Garis Tangan Menentukan Masa Depan?

Palmistry: Bisakah Garis Tangan Menentukan Masa Depan?

Hai Treaders! Pasti salah satu dari kalian pernah, kan, melihat atau bahkan memiliki pengalaman bertemu peramal yang hanya meraba dan melihat garis tangan kita, lalu bisa menceritakan secara detail masa depan kita? Eits! Hati-hati loh, Treaders! Siapa tahu kalian lagi dibohongi. Gak percaya? Disimak dulu, deh, artikelnya supaya Treaders tahu alasannya!

Sejarah awal Palmistry—ilmu membaca keberuntungan dan nasib seseorang di masa depan melalu garis telapak tangan—dikenalkan dan dipelajari untuk pertama kalinya di China. Palmistri menganut konsep Yin & Yang, yaitu mengenai dua prinsip yang berlawanan, dalam menganalisa keberuntungan seseorang. Pada awalnya, seni membaca garis telapak tangan disesuaikan dengan berbagai macam filosofi yang berkembang pada zaman kuno. Sampai pada akhirnya, terbitlah sebuah buku medis pertama di China yang memiliki banyak masukan tentang bagaimana mengukur penyakit dengan memeriksa tangan seseorang yang berjudul “Yellow Emperor”. Namun, monograf seni membaca garis tangan yang paling lengkap adalah dari zaman Western Han oleh XuFu. Buku yang dia tulis dianggap sebagai fisiognomi paling sistematis di seluruh China kuno.

Selama masa abad Pertengahan di Eropa, tercatat banyak Imam di Gereja mulai mencoba mempraktekkan seni meramal telapak tangan ini. Mereka sangat penasaran seberapa akurat ramalan tersebut. Saat itu, bidang palmistri, astrologi, geografi dan kimia adalah ilmu khusus yang dijaga oleh gereja, yang berarti orang lain tidak dapat mempelajarinya sesuai keinginan mereka, serta pengendalian penyebaran ilmu-ilmu tersebut pun dikontrol oleh pihak gereja. Sampai pada akhirnya, pihak gereja mulai mengkritik bahwa seni meramal telapak tangan tak lebih dari sekedar ilmu sihir dan karya iblis. Namun pengendalian ilmu palmistri tersebut mulai menyebar dan tidak dapat dengan mudah dikendalikan oleh pihak Gereja. Banyak orang Roma (Gipsi) pada saat itu mulai diam-diam mempelajari seni membaca telapak tangan untuk kemudian menjadikannya sebagai mata pencaharian hidup, sehingga semakin banyak orang yang menggunakan seni membaca telapak tangan untuk menipu orang lain agar mereka bisa mendapat uang. Akibatnya, palmistri menjadi kurang dipercaya oleh masyarakat. Namun, meskipun demikian tetap keberadaannya tidak mati begitu saja.

Bertahun-tahun lamanya seni membaca garis telapak tangan ini digunakan masyarakat untuk dapat memprediksikan masa depan seseorang. Mereka menganggap bahwa garis telapak tangan memiliki banyak informasi terkait orang tersebut. Para ahli riset menyatakan bahwa sebenarnya, informasi dari garis telapak tangan yang dimaksud tak lain adalah terkait rekaman fisik yang dapat menggambarkan perkembangan seseorang dari masa perkembangan awal seorang manusia, sehingga dapat memberikan informasi kesejahteraan manusia di masa mendatang. Ketebalan, warna, dan garis telapak tangan dapat berubah seiring berjalannya waktu, sehingga dengan begitu para ilmuwan dapat menduga bagaimana perjalanan awal perkembangan seorang manusia di masa lalu, dan memprediksikan perkembangan selanjutnya di masa mendatang. Seperti contoh, garis telapak tangan mampu memberikan petunjuk terkait perkembangan awal seseorang selama masa kandungan. Diketahui bahwa anak yang diprediksikan mengalami sindrom down, fetal alcohol syndrome, serta anak yang perempuan yang menderita campak sebelumnya dapat dilihat dari bentuk garis telapak tangan. Anak dengan kelainan tersebut memiliki lipatan garis horizontal yang jauh lebih panjang dari sisi telapak tangan ke ujung lainnya dibandingkan dengan anak-anak normal lainnya. Tangan dianggap mewakili seluruh tubuh, dengan warna dan tekstur yang berhubungan dengan kesehatan fisik dan spiritual manusia, karena tangan adalah organ yang paling sensitif dan paling terampil pada tubuh manusia.

Salah satu pemikiran yang mendasari seni membaca telapak tangan adalah bahwa setiap individu memiliki garis telapak yang berbeda-beda, itu berarti telapak tangan itu unik. Dengan demikian, garis telapak tangan dapat mewakili kehidupan yang berbeda pula dari setiap manusia. Akan tetapi, hal tersebut tentunya tidak dapat dibuktikan dengan syarat ilmu pengetahuan, karena bagaimana mungkin kita dapat melihat masa depan seseorang hanya dengan melihat garis telapak tangannya saja? Kalaupun memang bisa, lalu bagaimana kita mampu menjelaskan masa depan orang-orang yang mengalami kecelakaan terbakar sehingga garis telapak tangan mengalami kerusakan? Bagaimana jika seseorang mengalami operasi amputasi pada bagian tangan? Apakah dengan begitu masa depan orang tersebut tidak lagi dapat dilihat karena kita tidak memiliki garis tangan?

Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, diperlukan berbagai macam usaha untuk dapat membuktikan keakuratan ilmu membaca garis telapak tangan yang tentunya harus disesuaikan dengan kaidah dan syarat ilmu pengetahuan. Sampai hari ini, membaca garis telapak tangan tidak dapat menjelaskan banyak fenomena yang berbeda, sehingga keabsahannya masih diragukan. Sepanjang sejarah, keinginan manusia untuk mengendalikan hidup mereka dan keinginan manusia untuk mengubah takdir apabila tidak sesuai, menjadikan seni membacara garis telapak tangan ini sesuatu yang tidak mudah untuk dihentikan dan bahkan menjadi kian populer di kalangan masyarakat. Padahal sudah jelas bahwa metode-metode yang digunakan pada seni membaca garis telapak tangan ini tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, melainkan hanya dengan keyakinan dan konsep-konsep mitos.

Nah, sekarang Treaders lebih yakin, kan, kenapa kita tidak boleh mempercayai ramalan-ramalan yang hanya melihat garis telapak tangan. Ingat ya, sesungguhnya yang dapat mengubah takdir adalah usaha kita, bukan ramalan dari garis-garis kusut di telapak tangan!  Salam, Monica Susanto/Tsn

(Sumber: www.skepticink.com , www.theatlantic.com, foto from google)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *