Why Am I Even Here?

Why Am I Even Here?

Oleh: P.Rifai

“Egois! Egois! Egois!” Sudah sejak setengah jam yang lalu Arina terus mengomel pada ketiga sahabatnya yang bahkan tidak lagi peduli akan apa yang dikatakan gadis itu.

“Kok, bisa-bisanya sih, sahabat ngejebak sahabatnya sendiri?” tanya Arina hampir menangis.

“Kok, bisa-bisanya sih, ada sahabat yang gak solid kayak kamu?” balas Marha dengan ekspresi sebal.

“SIAPA BILANG?” tanya Arina setengah membentak. “Solid itu bukan berarti aku harus selalu bareng sama kalian! Aku selalu dukung kalian pergi ke sana, tapi aku gak mau ikutan mati!”

“Arina,” ucap Bima tenang. “Kita ini sahabat kamu. Kita gak akan mencelakakan kamu. Kita ajak kamu karena kita tahu ini gak bahaya.”

“MEMANGNYA PERNAH DICOBA?” bentak Arina. “Jangan sok!”

“Ya memang belum, tapi—“

“Udah, kita aja yang ke sana,” ucap Nara, memotong perkataan Bima. “Kalau kamu mau stay, ya udah, sendiri aja di sini.”

“Kok, gituuu?” Arina mulai protes sambil memanyunkan bibirnya.

“Jadi mau ikut apa enggak?!” tanya Nara mulai meninggikan suara.

Kalau sudah Nara yang marah begini, mau tidak mau Arina mengangguk juga. Meski dia takut untuk mati, namun dia lebih takut jika penyebab kematiannya adalah tatapan tajam Nara.

“Ya sudah. Ayo!” seru Nara sebelum berbalik badan dan bersiap memimpin rombongan.

Dua jam yang lalu, usai bel pulang sekolah berbunyi, Arina dipaksa ketiga sahabatnya untuk bermain petak umpet. Mereka asyik bermain dalam hening sampai tidak sadar bahwa gerbang sekolah sudah dikunci. Ketika akhirnya keempatnya menyadari hal itu, hanya Arina yang menangis meraung-raung. Ini semua ternyata rencana jahat sahabat-sahabatnya.

Sudah sejak setahun yang lalu ketiga sahabatnya tertarik dengan Pintu Neraka yang dibicarakan orang-orang. Pintu yang ketika kamu memasukinya, kamu bisa hilang, lenyap, dan tidak pernah diingat oleh siapa pun lagi. Fotomu secara otomatis terhapus dari semua benda di muka bumi ini, begitupula ingatan orang-orang tentangmu.

“Coba pikir pakai logika. Kalau yang masuk ke sana akan hilang dari ingatan, terus kenapa orang yang menyebar cerita ini bisa ingat?” tanya Nara suatu hari.

“Katanya kan, dia yang menemukan Pintu Neraka itu, makanya cuma dia yang bisa ingat. Cuma dia juga yang bisa masuk dan keluar dari sana,” balas Arina.

“Gak masuk akal!”

Kemudian, Arina tidak berani lagi membalas perkataan Nara. Begitu pula dengan keadaan saat ini. Setelah dijebak sahabat-sahabatnya untuk tetap di sekolah hingga gerbang dikunci, kemudian mendapat tatapan galak dari Nara, mau tidak mau Arina hanya bisa diam mengikuti ketiga sahabatnya yang mulai berjalan menuju tempat paling terkenal di sekolahnya itu.

Tak ada yang tahu dimana letak Pintu Neraka itu. Hanya Nara yang tahu, karena dia begitu ambisius memasukinya. Nara menemukannya 3 hari yang lalu dan langsung merancang strategi untuk masuk ke dalamnya. Dia mengajak Bima dan Marha yang langsung setuju, dan menjebak Arina sebagai sahabatnya yang paling penakut. Letak pintu itu ada di ruang bawah tanah. Lubang menuju tangganya ditutupi lemari peralatan olahraga. Namun selama bermain petak umpet tadi, rupanya Nara dan Bima sudah mulai menggeser lemari itu.

Koridor sekolah yang gelap membuat Arina bergidik ketakutan. Dia tidak mau masuk ke pintu itu, tapi dia juga takut berada di barisan paling belakang. Bayangan film setan yang pernah ia tonton mulai muncul, membuatnya mempercepat langkah dan berusaha tidak jauh-jauh dari Marha yang berada di depannya.

Dan akhirnya … mereka sampai. Tangga menuju pintu itu gelap. Sangat gelap dan suasana di sekitarnya pun membuat Arina ingin menangis ketakutan. Namun Nara tak gentar sama sekali. Ia berjalan mantap menuruni tangga, kemudian membuka pintu tersebut dengan santai.

Arina merasakan angin dingin berhembus keluar dari pintu itu, menusuk kulitnya, membuatnya bergidik ngeri. Ia juga yakin Marha dan Bima merasakan hal yang sama. Hanya Nara yang masih mantap berdiri tanpa terlihat ketakutan sedikit pun. Ia menatap sahabat-sahabatnya, kemudian berjalan masuk.

“Ayo!”

Butuh waktu 5 detik bagi Bima sebelum ia akhirnya memutuskan untuk menyusul Nara. Sementara itu, butuh waktu 10 detik bagi Marha untuk melangkahkan kakinya mengikuti Nara dan Bima. Dan butuh—

BUKKKK!

Pintu menutup kencang ketika Arina baru saja hendak masuk ke dalamnya. Tak lama, ia mendengar jeritan dari dalam. Jeritan memilukan, milik Bima dan Marha. Jeritan meminta tolong dari keduanya.

“BIMAAAA! MARHAAAA!” Arina menjerit sembari menggedor-gedor pintu yang tiba-tiba saja terkunci. Matanya berkaca-kaca hendak menangis membayangkan kondisi kedua temannya. Harusnya aku menghalangi mereka, harus aku menyadarinya, anak setan itu! ANAK SETAN ITU! Arina menjerit dalam hati, mengutuk sambil membayangkan wajah pemilik tatapan tajam.

Namun hanya lima detik, hanya lima detik yang dibutuhkan suara Bima dan Marha untuk akhirnya menghilang, dan Arina terlonjak kaget hingga terjengkang ke belakang saat melihat sesosok anak laki-laki keluar dari dalam pintu reyot berwarna coklat yang mengerikan.

Who is he? Why am I even here?

“Halo, Arina. Aku Nara.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *