Oleh: H   Kemarin, aku berbaring bersisian bersama hujan yang berkejaran dengan dedaun yang berserak jadi lingkaran dengan awan yang kelabu dan menawan   Tergelak tawa, membawa haru yang membiru Sepercik, sepercik; biru di hatiku   Pita kuning yang kusimpul jadi senyum Kertas bergaris yang bertulis tinta air mata Sudahkah kau maknai kata kata yang berlomba menarik hati?  Dari hati ke hati, dari air mata yang kuharap jadi bukti bahagia   Sudah tiba kalanya ketika gelap memuncak, dan selimutku jadi tempat hangat yang tersisa. Detik-detik tak mau diam, sibuk membuat jejak di setiap jeda, di setiap napas, di setiap detak.    Hingga akhirnya, malam ini,Read More →

Oleh: Willy She stood upon the grey tower, looking down on the illustrious city. Hundreds of homes with its glinting windows, smokes rose from their chimney into the celestial abyss above. There upon the lonely bell tower she stood alone. Her eyes gaze overt the dim stars. The night was cold and shivering, yet she stood unperturbed. Still as a marble statue. As she looked down once more to the hundreds of roofs and edifice that illustrated the great city. She wonders, can I really stay in this world? In this dimly night shadow, her past is all behind her. Far from her touching, notRead More →

Oleh : Anonim   “DASAR PEMBUNUH!” teriak Ibuku di lorong rumah sakit. Penampilannya acak acakan, matanya merah, dan kantong matanya tebal, tanda bahwa ia telah menghabiskan waktu menjaga ayah. Namun, takdir berkehendak lain. Baru saja aku mendapat kabar bahwa ayahku menghembuskan napas terakhirnya 1 jam yang lalu. Aku melihat Ibuku mengayunkan lengannya bersiap menamparku. Apa aku bisa menghindarinya? Ya, mungkin. Apa aku akan menghindarinya? Tidak. Kurasakan tamparan itu menyentuh pipiku, hingga aku terjerembab jatuh dan kepalaku terhentak ke sisi kursi. Orang-orang bergegas menghampiri kami, menahan Ibuku dan membantuku berdiri. Kurasakan darah mengalir dari luka di kepalaku, dan pipiku yang terasa seperti terbakar karena tamparan Ibuku.Read More →

Oleh : Elsa Tamara Shalsabila   How is this supposed to mean? It all still left me agape. (How the distinct mix of your perfume and mine collapsed) (How the tinge of pleasure resulted in some more) (How the touch still lingers causing me chocked) All with no sense of virtue.   How is this supposed to mean? You are the oxygen while I am the fire. (Being with you is how I survive the life that happens to be mine) (And I could only make this come to a halt by hating but you made it a fallacy) (Baby has this ever crossed yourRead More →

Oleh : D   Aku selalu percaya, apa yang sudah atau akan kita alami pasti memiliki suatu arti dan makna. Entah itu sesuatu yang baik, atau buruk sekalipun. Ya, aku akan selalu percaya.   Hari perpisahan sekolah akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Tapi, apakah ini pertanda kami juga akan ikut berpisah? Ku harap tidak.   “Kostum perpisahan nanti mau warna apa?” “Abu-abu, tapi kayaknya banyak yang pake.” “Iya sih, kenapa pilih warna abu-abu?” tanyaku. “Kelam, warna dari semua rasa, perasaan, dan keinginan yang tak terwujud” jawabnya. “Kalo gitu ganti warna aja gimana? Warna biru dongker bagus.” “Yaaa! Aku suka!” Katanya dengan semangat. “Pilih desain yangRead More →

Oleh : Karunaksara [satu]   Butiran pasir di bawah kakiku merengek kecil. Katanya aku terlalu berat. Tulangku terlalu besar sampai mendesak kulitku, menonjol seperti haus akan udara segar, seakan berharap hilangnya lapisan daging berarti pasokan udara lebih. Aku tertawa disaksikan langit senja.   “Pasir, beban itu bukanlah tulang. Beban itu bernama kesedihan.”   Lalu debur ombak menerjang, mewakili buih air mata yang bergolak sejak lama.   [dua]   Aku ingat bentuk ranting di pohon lebat di taman di dekat rumah dan pucuk daunnya yang hinggap mengais awal kehidupan. Aku ingat hangat sinar matahari yang menyusup ke sela jari saat berusaha menghalangi sinarnya masuk ke mata,Read More →

Oleh : Tioni   Long gone my ET lover We only fall in love in the universality of eye-gazing But our minds think in different colors And our lips speak in different wave We are ruled by different language Incomprehensible And I would not know before That there is a whole other galaxy outside of the enormous mine We only bump into each other, caress each others’ skin, along the way Amazed at how beautiful our differences are And how closely similar we are But I’m going home Cause I wouldn’t belong in your place and so do you in mine We’re better off thisRead More →

Oleh : Putu Satwika Jalapati tersentak dari tidurnya. Mimpi buruk yang sama kembali mendera malam itu. Ini kesekian kalinya ia bermimpi buruk sejak kembali membunuh. Tatapan kosong dari korban-korbannya, yang tentu terus bertambah jumlahnya sejak perang candu, benar-benar menyiksanya walau hanya sebatas mimpi. Istrinya masih mendengkur lembut disebelahnya. Dengan perlahan ia bangkit dari dipannya supaya tidak membangunkan istrinya. Buru-buru ia ke dapur untuk mengambil minum guna menenangkan dirinya. Gerimis semakin deras mendekati hujan mencoba memeriahkan sepinya malam. Setelah dirasa tenang, Jalapati melangkah perlahan menuju serambi gubuknya. Ia sempatkan memandangi anak-anaknya yang tertidur pulas diatas dipan ketika melewati kamar mereka. Sesampainya di serambi, Jalapati hanya dudukRead More →

Oleh : Putu Satwika   Derap kuda terdengar memecah sunyinya malam di perbatasan ibukota. Tiga kuda tampak dipacu menembus jalan setapak yang membelah padang rumput liar yang hanya diterangi cahaya purnama. Rakhryan Adityatama beserta kedua ajudannya tengah dalam perjalanan pulang dari rapat koordinasi di benteng timur. Keterbatasan jarak pandang tak menghalangi ketiganya memacu kuda mereka dengan kecepatan tinggi. Namun, laju ketiganya tertahan begitu melihat dari kejauhan tampak lima orang menghadang di tengah jalan. Seseorang diantara mereka mengacungkan suar dan berseru, “Bhayangkara!” Rakhryan Adityatama dan para ajudannya menarik kekang kuda mereka. Ketiganya lantas melompat turun dari tunggangan mereka begitu kuda mereka berhenti. Mata tajamnya mengenali seragamRead More →

Oleh : Putu Satwika Matahari baru condong ke barat. Jalapati terbangun dengan tubuh letih dan pegal yang menjalar. Sejenak ia terduduk di dipannya, lalu melangkah keluar sembari menyambar kerisnya. Dengan langkah gontai ia menuju bagian belakang gubuk reotnya, lalu memisahkan keris dari sarungnya. Aroma darah pekat langsung menusuk hidungnya. Lantas ia cuci keris tersebut dengan air kembang guna meringankan bau dosa yang membebani lempengan besi itu. “Bagaimana tidurmu?” tanya suara wanita dari belakang. Tanpa menoleh, Jalapati menjawab datar. “Seperti biasa. Anak-anak sudah makan?” “Mereka langsung lari keluar mengejar capung setelah selesai makan,” balas wanita itu. Jalapati mengibas-ngibas kerisnya untuk meniriskan air kembang yang membasuh. “SampaiRead More →