THIS TIME

“Polygraph: I know you’re lying, I know you’re not”

            Seiring dengan perkembangan zaman, ada begitu banyak alat-alat canggih yang terus berkembang dan berlomba-lomba memanjakan manusia. Alat-alat dengan teknologi maju ini mampu mempermudah dan membantu manusia dalam berbagai macam aspek kehidupan. Salah satunya, membantu manusia dalam memecahkan berbagai kasus kejahatan.

Adalah polygraph, alat pendeteksi kebohongan yang sering sekali digunakan oleh polisi dalam memecahkan misteri kasusnya. Alat ini ditemukan pertama kali pada tahun 1902 oleh James Mackenzie, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat.

Instrumen poligraf pada dasarnya merupakan kombinasi alat-alat medis yang bekerja dengan cara mencatat perubahan proses fisiologis seperti detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan, dan aktivitas elektro-dermal (keringat pada bagian jari). Adanya fluktuasi pada proses-proses fisiologis tersebut memungkinkan dugaan bahwa orang tersebut sedang berbohong.

Selain perubahan proses fisiologis, poligraf juga bekerja dengan merekam aktivitas gelombang elektrik dari otak manusia. Adapun macam-macam sensor yang digunakan pada poligraf antara lain Sensory Respiratory Rate, Galvanic Skin Resistance dan sensor tekanan darah. Hasil pemeriksaan dari alat ini disebut sebagai deteksi Psychophysiological.

Di Indonesia sendiri, poligraf kerap digunakan oleh polisi dalam menjerat para tersangka yang menolak mengakui perbuatannya. Margareth Magawe, pelaku pembunuhan Angeline, misalnya, tidak luput dari jerat alat ini.

Namun baru-baru ini, publik gempar dengan berita yang datang dari terdakwa kasus kopi Vietnam, Jessica Kumala Wongso. Setelah hasil tes psikologi yang menyatakan bahwa Jessica normal, bahkan termasuk dalam kategori genius, manajer Jessica, Yudi Wibowo, menyatakan bahwa kliennya dinyatakan lolos dari jerat poligraf.

Meskipun sudah berjuta kali berhasil menjerat tersangka, nyatanya, sebelum Jessica, ada 5 orang di dunia yang berhasil lolos dari tes poligraf. Mereka adalah Gary Ridgway, Aldrich Ames, Ana Belen Montes, Leonardo Aragoncillo, dan Karel Koecher.

Jika kemudian Jessica terbukti bersalah di pengadilan, maka ia akan dinobatkan sebagai orang ke-6 di dunia yang berhasil lolos dari deteksi psychophysiological. Wow!

 

Puasa dan Idul Fitri di Polandia

 

Hai, Treaders! Kali ini Trimagz punya sekelumit cerita dari teman kita, Diera, yang tengah melaksanakan tugas AIESEC-nya di Polandia. Selama di sana, ia merasakan berbagai hal seru mulai dari lelahnya berpuasa di Polandia, sampai perbedaan kultural yang sangat jelas terasa. Penasaran? Yuk, disimak!

 

Halo, Treaders, kenalkan aku Diera. Selama masa kerjaku di Polandia, begitu banyak pengalaman berharga yang aku dapatkan. Aku tiba di Polandia saat bulan puasa, tepat seminggu sebelum hari raya Idul Fitri. Puasa adalah kewajiban bagi seluruh umat muslim, makanya aku tetap harus melakukannya di manapun aku berada, baik itu di Eropa maupun di Indonesia. Jadi, berpuasalah aku di Polandia.

 

Di hari pertama, aku tinggal di dormitory dan itulah hari pertamaku berpuasa di sini. Aku harus sahur jam 2 pagi, karena subuh jam 2.35 pagi. Aku sekamar dengan dua orang lainnya yang berasal dari Hongkong dan Iran. Tapi aku satu-satunya orang yang berpuasa, jadi aku harus bangun sendirian pagi-pagi dan berusaha untuk menimbulkan suara seminim mungkin agar tidak mengganggu rekan kamarku. Aku sudah mempersiapkan makananku sejak malam harinya, jadi aku hanya memakan makanan yang sudah agak dingin, tanpa dipanaskan terlebih dahulu. Mau gimana lagi, aku harus makan dan berpuasa. Tapi menurutku sahurku itu terasa enak-enak saja.

 

Di hari pertama puasaku ini pula, preparation seminar dimulai. Seminar ini bertujuan untuk membekaliku selama enam minggu bekerja di sini. Seminar ini diselenggarakan oleh AIESEC Wroclaw. Hari pertama ini aku jalani dengan tulus, meski agak sedikit berat bagiku. Aktivitas yang aku lakukan cukup banyak, dan aku harus berjalan dari dormitory ke auditorium sekitar 3 km, pulang dan pergi. Namun aku tetap berhasil menunaikan puasaku hari ini.

 

Keesokan harinya, tidak jauh berbeda. Aku harus tetap menahan hawa nafsuku terhadap makanan dan minuman, ketika rekan-rekanku yang lain makan siang dan memamah snack. Namun tidak masalah, karena puasa tetap dapat aku jalani selama dua hari full.

 

Malam harinya, ibuku menelepon, menanyakan bagaimana keadaanku. Aku menjawab baik-baik saja, meski puasa terasa berat sekali. Buka puasa di sini pukul 9 malam, otomatis aku harus berpuasa selama 19 jam sehari. Ibuku bilang, tidak usah berpuasa jika aku tidak mampu, dan hal itu baik-baik saja kata ibuku. Akhirnya, selama empat hari kemudian sebelum lebaran tiba, aku tidak lagi berpuasa dan akan menggantinya di lain hari.

 

Di hari Idul Fitri, aku meminta libur sehari karena di sini tidak ada masjid dan aku berniat pergi ke KBRI, which is in the capital city, Warsawa. Jadi, setelah pekerjaanku selesai aku terbang ke Warsawa selama kurang lebih satu jam. Di saat lebaran tiba, aku merasa senang sekali karena membayangkan akan bertemu umat muslim dari negara lain dan makan opor ayam atau semacamnya di KBRI.

 

Perjalananku ke masjid di Warsawa sekitar 40 menit dari apartemen tempat aku menginap. Aku menggunakan bus sebagai transportasi ke sana. Sesampainya di masjid tersebut, aku agak sedikit bingung karena masjidnya sangat sepi. Aku pikir, mungkin umat muslim di sini sangat sedikit. Namun anehnya, masjid tersebut memang benar-benar sepi. Ketika aku memasuki area masjid, seorang penjaga menghampiriku dan bertanya, “ada yang bisa saya bantu?” Aku menjawab ingin salat Idul Fitri. Balasan yang tidak aku harapkan terlontar dari penjaga tersebut. Penjaga itu berkata, “tidak ada solat Idul Fitri hari ini, solat tersebut dilaksanakan kemarin karena kita mengikuti lebaran Turki.” Yap, benar sekali, perjalananku jauh ke sini menjadi sia-sia. Selain itu, aku mengharapkan setidaknya KBRI menyelenggarakan halal bi halal. Namun saat aku mencoba menelepon ke sana, tidak ada jawaban dan katanya KBRI hari itu libur. Ya, perjalananku ke Warsawa amat sia-sia. Akhirnya, aku hanya keliling kota untuk menghibur diriku sejenak.

 

Mengenai perbedaan budaya di Polandia, cukup membuatku terkejut. Sudah satu bulan aku di sini, dan hampir setiap hari teman-temanku dari negara lain rutin pergi ke club. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di sana, tetapi mereka selalu pulang pukul 3 pagi ketika keesokan harinya mereka harus bangun pukul 8 untuk bekerja. Di antara mereka memang ada yang dapat bangun tepat waktu, namun ada pula yang terlambat sehingga tidak bekerja.

 

Bagaimanapun, bagiku mereka semua orang baik. Hanya saja ada hal-hal tertentu yang rasanya cukup aneh. Orang Polandia sangat senang mencium atau berpelukan walaupun itu adalah kali pertama mereka bertemu seseorang. Itu adalah cara mereka menyapa orang baru, atau berkenalan. Mereka sama sekali tidak masalah untuk mencium orang lain baik itu sesama maupun berbeda jenis kelamin.

 

               Pengalamanku masih ada banyak, namun terasa sulit bagiku untuk memaparkan semuanya di kesempatan kali ini. Mungkin di lain waktu ya, Treaders! Dzięki!

 

Tindak Tegas Pelaku “Bullying”, Satu Teguran untuk Semua

Hai Treaders!

Baru-baru ini, dunia pendidikan Indonesia lagi-lagi gempar oleh munculnya video berdurasi 37 detik yang diunggah oleh salah seorang siswa SMA di akun instagramnya. Dalam video itu, terlihat 6 orang siswa senior yang memaksa sejumlah adik kelasnya untuk duduk, lalu mereka memaki-maki, menyiram dengan air, dan menaburi adik kelasnya itu dengan abu rokok. Tidak cukup sampai disitu, senior-senior yang duduk di kelas XII ini bahkan memaksa adik-adik kelasnya untuk ikut merokok dan juga mengenakan pakaian dalam perempuan di luar seragam SMA yang mereka kenakan.

Setelah diselidiki, pelaku maupun korban bullying dalam video ini berasal dari SMA Negeri 3 Jakarta. Enam orang senior yang melakukan bully tersebut beralasan bahwa malam sebelumnya, mereka bertemu adik-adik kelasnya yang belum cukup umur itu di tempat hiburan malam, dan membuat mereka geram sekaligus tidak terima melihat hal tersebut.

Berita terakhir yang dilansir dari Kompas.com menyebutkan bahwa keenam pelaku bullying ini tidak diluluskan oleh pihak sekolah mereka. Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama, Senin (9/5) di tengah kunjungannya pada hari pertama pelaksanaan UN tingkat SMP di SMP 41, Ragunan, Jakarta Selatan.

Keputusan ini dilakukan sebagai bentuk teguran keras bagi seluruh siswa untuk tidak lagi melakukan bullying di lingkungannya.

Treaders, sebenarnya apa saja sih hal yang bisa dikategorikan sebagai bullying? Ada begitu banyak bentuk bullying yang sering kita jumpai. Secara verbal seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama, sarkasme, merendahkan, mencela, mengejek, mengintimidasi, atau menyebarkan gosip. Sedangkan secara fisik seperti memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mencubit, mencakar, hingga merusak barang atau memeras korban.

Perilaku-perilaku non-verbal, seperti mendiamkan, menjulurkan lidah atau menatap sinis juga dikategorikan sebagai bullying. Di zaman modern ini, bullying juga sering dilakukan melalui media-media sosial.

 Sebenarnya sebesar apa sih dampak bullying itu sendiri? Dalam beberapa penelitian, dikemukakan bahwa dampak bullying bagi korbannya sendiri tidak hanya menyebabkan kesakitan fisik, namun juga gangguan kesehatan mental seperti depresi, anxiety, hiperaktifitas, bahkan masalah pada pola makan bagi anak perempuan. Dalam kehidupan sosial, korban mengalami penurunan kepercayaan diri (self-esteem), timbulnya perasaan malu, trauma, tidak mampu menyerang balik, merasa sendiri, serba salah, bahkan menjadi takut pada sekolah (school phobia).

Akibatnya, di kemudian hari korban akan cenderung mengasingkan diri di sekolah, mengalami ketakutan bersosialisasi, dan bahkan bisa menyebabkan keinginan untuk bunuh diri.

Selain korban, sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa menjadi saksi dari perilaku bullying juga bisa menyebabkan dampak negatif pada kesehatan mental. Di sisi lain, apabila pelaku bullying dibiarkan saja, ia akan belajar bahwa tidak ada risiko apapun ketika mereka melakukan kekerasan, agresi, maupun mengancam anak lain. Ketika dewasa, pelaku akan memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku kriminal dan bermasalah dalam fungsi sosialnya.

Oleh karenanya, psikiater, pembina konseling di sekolah-sekolah, guru, dan orang tua berperan dalam meningkatkan pengetahuan tentang bullying serta dampaknya. Jadi Treaders, mari mulai peka dengan lingkungan kita dan sebisa mungkin mencegah perilaku bullying sejak dini. (Insyirah Alifta R. J.)

Sumber:

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/05/09/10295511/Siswa.Pelaku.Bullying.di.SMAN.3.Tidak.Diluluskan

Cheng-Fang Yen, M.D.,Ph.D.  2010. Taiwanese Journal of Psychiatry Vol.24 : School Bullying and Mental Health in Children and Adolescents. Taipei.

Hymel, Shelley., Swearer, Susan M. Four Decades of Research on School Bullying. USA.

Rivers, Ian et. al. 2009. Observing Bullying at School : The mental Health Implications Witness Status. USA : APA.

Tragedi Paris Kembali Mengingatkan Perdamaian Dunia

Jean-Jullien-Pray-for-Paris-865x577

Halo, Treaders! Dunia kembali berduka dengan adanya serangan bom bunuh diri beserta penembakan acak di tujuh tempat berbeda di Prancis, yaitu: Gedung Konser Bataclan, Rue Bichat, Av. de la Republique, Bd. Voltaire, Rue Charonne, dan Boulevard Beaumarchais, dan Paris, pada Jumat (13/11) malam. Insiden yang mematikan ini merenggut nyawa 153 orang yang sedang berkegiatan di daerah yang padat warga itu. Dugaan kuat bahwa tragedi ini merupakan aksi terorisme, karena munculnya beberapa tersangka dari kelompok militan jihad sesat, ISIS. Munculnya bukti ini menyebabkan banyak sekali kecaman yang dilontarkan dunia kepada umat muslim. Akan tetapi, seorang pemuda di kota Paris berusaha mengajak warga yang merupakan korban atas serangan teror paris pekan lalu untuk tidak buru-buru membenci umat muslim. Pemuda tersebut berdiri di kawasan Taman Place de la Republique, mengikat matanya, sambil membawa papan bertuliskan: “Saya seorang muslim, saya disebut teroris. Saya percaya Anda, apakah Anda percaya saya? Jika percaya, silakan peluk saya!”

The Sun melaporkan, Rabu (18/11), ratusan orang mendekati pemuda itu lalu memeluknya. Beberapa diantaranya menyemangatinya, ada juga pengunjung taman yang menangis di pelukannya. Pemuda yang tidak diketahui namanya tersebut berdiri sejak pagi sampai petang.

“Saya muslim dan saya tidak pernah membunuh orang lain. Saya sama terpukulnya dengan keluarga korban,” ujarnya.

Peristiwa ini jelas mengejutkan seluruh dunia, apalagi hingga saat ini jumlah korban terus bertambah. Banyak masyarakat dari seluruh dunia ikut mengucapkan simpati kepada para korban dan keluarga yang mengalami musibah di Paris, Prancis, baik secara langsung maupun melalui jejaring sosial.

Serangan ini merupakan ujian bagi manusia, terutama terkait nilai kemanusiaan umat manusia di seluruh dunia. Insiden ini mengingatkan kita bahwa pentingnya suatu toleransi antara umat manusia di seluruh dunia. Insiden ini juga kembali mengingatkan kita semua untuk saling menghargai dengan bersikap adil serta menjunjung perdamaian, tidak untuk saling menuduh dan mem-provokasi satu sama lainnya sehingga menimbulkan perpecahan dengan umat beragama atau antara suatu negara dengan negara lainnya.

So, Treaders! Mari saling menjaga perdamaian dunia dengan bersikap adil dan bertoleransi dengan perbedaan yang ada, ya! Karena seluruh umat manusia di dunia adalah saudara. (Evy Sulfiani Komala)

Sumber : http://www.merdeka.com/dunia/pemuda-di-paris-ajak-ratusan-warga-pelukan-jelaskan-agamanya-islam.html

http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151113_dunia_paris

Kabut Asap : Apa Kabarnya?

Hai, Treaders! Sudah tahukah kalian mengenai kasus kabut asap yang terjadi di Indonesia? Pasti sudah, dong. Walaupun kasus ini sudah berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan sudah banyak campur tangan masyarakat awam dalam mengurangi kabut asap, sampai sekarang belum ada penanganan signifikan dari pemerintah mengenai kasus kabut asap ini.

Masalah timbul pertama kali karena adanya kebakaran hutan. Cuaca yang kering pun ikut memperluas kebakaran hutan yang terjadi, sehingga sulit sekali melakukan pemadaman api di beberapa kawasan.

Kabut asap ini terjadi di beberapa titik di kawasan Indonesia. Kawasan yang terparah adalah di pulau Sumatera. Menurut pantauan satelit Terra-Aqua pada Jumat (16/10) menunjukkan bahwa terdapat 769 titik di Sumatera, yakni 7 di Bengkulu, 97 di Jambi, 1 di Kepri, 38 di Lampung, 22 di Riau, 537 di Sumatera Selatan, dan 3 di Sumatera Utara.  Sedangkan di pulau Kalimantan terdapat 159 titik, yakni 19 di Kalimantan Barat, 5 di Kalimantan Selatan, 134 di Kalimantan Tengah, dan 1 di Kalimantan Timur.

Masalah ini juga menimbulkan beberapa opini publik yang terkesan menyindir pemerintah Indonesia yang kurang cepat tanggap dalam menangani kasus ini. Pada tanggal 7 Oktober lalu, Komisi IV DPR mendesak Presiden untuk segera menuntaskan permasalahan kabut asap di Sumatera dan Kalimantan.

Kali ini pemerintah melakukan operasi besar dalam menangani permasalahan kabut asap ini. Sebanyak 32 Helikopter dikerahkan; diantaranya adalah sebanyak 21 helikopter, 7 fixed wing water bombing, dan 4 unit pesawat hujan buatan. Penanganan ini tak hanya dilakukan oleh Indonesia sendiri, Indonesia mendapat bantuan dari Malaysia, Singapura, dan Australia terkait menangani masalah ini.

Untuk tim penanganan kasus kabut asap, pemerintah juga sudah mengirimkan sebanyak 22.146 tim personil gabungan yang berasal dari TNI, Polri, BPDP, Manggala Agni, dan relawan lainnya.

Walau terkesan lambat, pemerintah pasti akan menuntaskan kasus kabut asap ini. Tugas kita sebagai warga yang baik adalah dengan mendukung kerja pemerintah dan terus memberikan dukungan yang positif akan permasalahan ini. Kita juga tidak bisa menuntut seenaknya tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.

 

So Treaders, perhatikan terus dan aware, ya, sama keadaan di sekitarmu. Salam hangat! (Risa Assyifa)

Sumber :

daerah.sindonews.com/read/1053602/32-helikopter-dikerahkan-untuk-tangani-darurat-asap-1444978844

photo.liputan6.com/news/komisi-iv-desak-jokowi-tuntaskan-masalah-kabut-asap-2335000

Parenting ala selebriti Korea

This Time parenting1 This Time parenting2 This Time parenting3

 

Halo treaders! Buat para pecinta dunia korea, pastinya sudah tidak asing lagi dengan musik, drama, variety show, dan reality show-nya. Salah satu reality show paling menggemaskan tahun ini, “The Return of Superman”. Acara yang dipenuhi oleh tingkah lucu anak-anak ini sengaja direkam oleh kamera tersembunyi untuk menampilkan realita dari para selebriti korea yang kini menjadi ayah. Mereka harus mengurus anak selama 48 jam tanpa bantuan sang istri. Yuk, kita intip parenting dari para selebriti korea di acara ini!

Menikah dengan orang berbeda kewarganegaraan maka berbeda pula ‘bahasa ibu’ yang digunakan. Hal itu dirasakan oleh Choo Sung Hon, seorang martial arts korea, yang menikah dengan Yano Shiho, model cantik asal Jepang. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Choo Sarang. “The Return of Superman” merekam proses Sarang belajar dua bahasa, diawali dari hanya fasih dalam bahasa Jepang hingga sekarang fasih sampai ke bahasa korea. Ayahnya, Choo Sung Hon, sering memperkenalkan bahasa korea dalam konteks-konteks tertentu.

Dalam psikologi kognitif mengenai perkembangan bahasa, balita berumur 3 tahun ini, Sarang, bisa disebut sebagai simultaneous bilingualism, orang yang mempelajari dua bahasa secara bersamaan sejak masa kanak-kanak. Dampak positif yang bisa didapatkan dari hal tersebut adalah anak lebih mudah menyerap informasi bahasa lain selain ‘bahasa ibu’, seperti yang dinyatakan dalam critical period hypotesis bahwa kemampuan kita untuk bisa mempelajari bahasa kedua sangat terbatas pada suatu periode tertentu. Dalam keadaan seperti itulah anak butuh pendampingan orang tua agar tidak bingung untuk membedakan kedua bahasa yang ia pelajari dan agar anak tahu benar penggunaan tata bahasa dan kosa katanya yang baik. Oleh karena itu, di reality show ini diperlihatkan ketekunan Choo Sung Hoon dalam memperkenalkan dan mengajarkan Sarang pada bahasa korea.

Berbeda dengan Choo Sung Hoon, Song Ill Gook membuat para penonton terkesan dengan caranya mendisiplinkan ketiga anak lelaki kembarnya. Memiliki anak kembar sekaligus, tentu merupakan hal yang membahagiakan dan menantang. Anak-anak, dalam perkembangannya, sering bertengkar karena hal kecil, sehingga sebagai orangtua terkadang hal tersebut harus bisa lebih ditoleransi karena mereka masih dalam tahap belajar. Disini lah peran orangtua juga, untuk secara pelan-pelan, memberikan anak pengetahuan tersebut. Hal ini yang sering dilakukan Song Ill Gook dalam mengasuh anak-anaknya. Ia akan meminta anaknya untuk berdiri tegap di pojok kamarnya, memikirkan kembali bahwa yang telah ia lakukan itu tidak baik, dan meminta maaf. Sejauh ini hal itu berhasil membuat si tiga kembar kecil berperilaku lebih baik. Selain mendisiplinkan, Song Ill Gook juga tekun mengajarkan anak-anaknya sopan santun, baik dari segi etika berbahasa korea yang memiliki tingkatan untuk setiap lawan bicaranya maupun tingkah laku. Hasil dari usahanya ini terbukti pada Song Daehan, Song Minguk, dan Song Manse, ketiga anak kembarnya, yang dilihat berperilaku baik oleh publik.

Dilihat dari cara Song Ill Gook mengasuh anaknya, ia tergolong seseorang yang menggunakan parenting dengan gaya Authoritative Style. Authoritative style adalah gaya pengasuhan dengan cara memberi batasan yang tegas tetapi tidak terlalu mengontrol. Orangtua tetap mendengarkan pendapat anak dengan baik sehingga anak cenderung tumbuh menjadi lebih percaya diri dan bertanggung jawab. (Intan Permata Sari)

Sumber :

www.allkpop.com

www.soompi.com

www.psychology.about.com

SUNYI INDONESIAKU

Telah lebih dari empat ratus tahun Indonesia lepas dari penjajah kulit putih, sudah nyaris tiga perempat abad dari masa pengabdian presiden pertama NKRI, dan genap 70 tahun Merah Putih kembali membebaskan dirinya dengan berkibar gagah diujung tiang tertinggi, tapi nampaknya belum juga mampu membuat gambaran mengenai arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Rasa nasionalisme yang dulunya teguh bersandar di dada pemuda-pemudi harapan bangsa, kini telah memudar entah lari kemana. Kiranya jiwa lain telah tumbuh dengan subur merambat dan memakan rasa bangga terhadap tanah air di dunia masa kini.

Seperti pada hari ini, Jatinangor, 17 Agutus 2015, kebahagiaan menyambut hari ulang tahun kemerdekaan itu telah sirna. Tak ada sedikitpun rasa ingin berbaur dengan masyarakat untuk kemudian menjalin dan berbagi suka cita dalam mengamalkan Pancasila. Mungkin Indonesia yang sekarang tidak sebodoh dulu, mungkin pendidikan di Indonesia yang sekarang tidak serendah dulu, tapi Indonesia pada hari ini, tidak lagi bisa sehangat dulu. Pemuda-pemudi mahasiswa yang terpelajar itu lebih memilih diam, bungkam, dan tuli. Seolah hari kemerdekaan kini bukanlah soal apa.

Entah dimana pemuda-pemudi yang berteriak lega saat hari ke-17 di bulan Agustus tahun 1945 kemarin, yang bahkan jiwanya pun telah lenyap sampai hari ini. Kemajuan teknologi mendapati perannya sebagai saksi pemuda yang lebih senang menyerukan suaranya lewat media sosial ketimbang terjun langsung memeriahkan. Semangat kemerdekaan pun dirasakan dengan diam-diam. Tak ada suara, tak ada kebersamaan, tak ada pemaknaan dan perenungan mengenai masa-masa perjuangan. Hanya jari-jemari yang dibiarkan menari di atas keyboard seolah meneriakan kata “MERDEKA!!!”, lalu klik “Ok” atau “Send” sudah lah cukup.

Merah Putih hari ini adalah Sang Saka yang bebas mengibaskan lambaiannya tanpa ada takut dan ragu sedikitpun. Akan tetapi, kemeriahan yang kurang ini menjadi suatu catatan penting dalam hidup saya, pada peristiwa yang telah lama berlalu, bersamaan dengan memudarnya semangat kemerdekaan. Sorak sorai pemuda-pemudi tinggal lah sesuatu yang hanya mampu mengiang-ngiang menghiasi kesepian di hari ini. Meskipun sesedih dan sesunyi itu, saya tetap berharap. Akan ada dimana pada tanggal ini, di tahun berikutnya, pemuda-pemudi itu tampil nyata dan menggebukan semangat kemerdekaan yang kian sunyi. (Monica Susanto)

 

Dibalik Kontroversi Go-Jek

20150722222203

Transportasi dengan layanan berbeda hadir di Indonesia. Mungkin sebagian besar dari kamu sudah tidak asing lagi dengan Go-Jek. Sekilas gojek tidak jauh berbeda dengan ojek pada umumnya. Eits, tunggu dulu. Ojek yang satu ini memiliki layanan yang boleh jadi menarik perhatian para pelanggannya, termasuk kamu.

Go-Jek adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri transportasi ojek yang menjadi solusi utama dalam pengiriman barang, pesan antar makanan, belanja, dan bepergian di tengah kemacetan. Revolusi industri transportasi ojek ini dimulai sejak tahun 2011. Nadiem Markarim merupakan tokoh dibalik kesuksesan Go-Jek. Niat sederhana Nadiem akhirnya ia tuangkan dalam misi pembentukan Go-Jek yaitu agar para tukang ojek di Jakarta dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Didirikan pada tahun 2011, Go-Jek hanya melayani telepon pesanan ojek melalui call center. Memasuki usia keempat, Go-Jek pun melakukan transformasi dengan menjadi perusahaan berbasis mobile yang tentunya semakin mempermudah pelanggan untuk memesan ojek. Melalui aplikasi ini, kamu bisa memesan ojek dan duduk manis sampai pengemudi Go-Jek datang menghampiri. Helm bersih dan masker akan selalu tersedia bagi konsumen.

Pelayanan tidak berhenti sampai di situ. Dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan, Go-Jek juga akan menyediakan layanan peminjaman jas hujan secara gratis bagi konsumen sehingga kamu tidak perlu khawatir menggunakan Go-Jek saat hujan melanda. Selain melakukan pemesanan, konsumen juga bisa memberikan rating pada pengemudi Go-Jek terkait pelayanan yang mereka berikan.

Nadiem sangat peduli akan pelayanan Go-Jek. Hal ini terlihat dari prasyarat bagi para calon mitra Go-Jek. Mereka akan melewati proses pemeriksaan dan pengemudi Go-Jek juga akan difasilitasi untuk mengikuti pelatihan bermanuver serta etika berlalu lintas. Ini bertujuan untuk merubah stigma warga tentang transportasi roda dua dengan meningkatkan standard mengemudi dan kesiagaan para pengendara Go-Jek.

Kebermanfaatan Go-Jek nyatanya tidak mampu membahagiakan seluruh warga. Hadirnya Go-Jek diiringi oleh berbagai kontroversi. Para tukang ojek yang belum bergabung menjadi mitra Go-Jek merasa dirugikan. Muncul anggapan bahwa Go-Jek adalah salah satu penyebab penghasilan mereka berkurang. Bahkan di beberapa daerah, terpampang selembar poster yang bertuliskan bahwa Go-Jek dilarang memasuki area tersebut.

Di luar berbagai pro dan kontra tersebut, niatan Nadiem mulai terwujud secara perlahan. Kini para tukang ojek tak perlu hanya menunggu pelanggan di pangkalan. Tukang ojek yang bergabung menjadi mitra Go-Jek juga semakin dipermudah oleh aplikasi mobile. Mereka jadi lebih aktif di jalan dan tidak hanya menunggu panggilan pelanggan. (Nur Rezky Syahputri)

Source : go-jek.com, google.com

Ramadhan di Perantauan

This time, Ramadhan di Amerika

 

Berapa jam kamu puasa? Di mana hari pertama kamu sahur? Di mana kamu akan buka? Di mana kamu akan shalat idul fitri? Dengan siapa kamu tarawih? Apa makanan yang ditunggu di bulan puasa? Setiap orang pasti memiliki jawabannya sendiri, ada yang menghabiskan puasa di rumah bersama keluarga, ada yang berbuka bersama teman lama, ada juga yang berpuasa di lingkungan baru. Nah, kali ini kita akan menguak pengalaman teman-teman kita yang berpuasa di luar negeri dengan lama puasa, cuaca, budaya, dan masyarakat sekitar yang berbeda.

Namanya Arifin Reza, akrab dipanggil Reza. Tahun lalu, ia menghabiskan satu bulan penuh puasa di Kanazawa, Ishikawa, Jepang, karena urusan perkuliahan. “Enaknya di negeri orang itu, sama teman-teman Indonesia serasa saudara, jadi gak ngerasa sendirian,” ucapnya. Ia pun menambahkan, “di Indonesia enak sekali loh, makanan serba enak, tinggal beli dan Insya Allah halal, jam puasanya relatif gak lama, kita harus banyak-banyak bersyukur dari itu.”

Ramadhan di Jepang bertepatan dengan musim panas, sehingga waktu siangnya lebih panjang. Ia pun harus menahan makan, minum, dan godaan-godaan lainnya sekitar 17 jam dari pukul 02.30 sampai 19.30. “Sahurnya sih yang lumayan, jam dua harus bangun,” ucapnya. Ia juga tetap pergi ke kampus, melakukan tugas riset, dan di akhir pekan bekerja sebagai pekerja paruh waktu. Ia sering menggunakan sepeda untuk bepergian. “Kalau dipikir-pikir puasa di musim panas sambil sepedaan kesana kemari itu luar biasa ya, tapi yang saya rasakan saat itu gak terlalu berat, kalau diniatkan ibadah semuanya terasa nikmat,” ungkapnya.

Di  Jepang pun ada komunitas Islam, namanya Ishikawa Muslim Society untuk seluruh muslim internasional, sedangkan yang berasal dari Indonesia bernama Rumah Muslim Ishikawa. Komunitas di Ishikawa tersebut sering mengadakan kegiatan, seperti kajian mingguan, kadang mendatangkan syekh yang sedang ada di Jepang, dan sebulan sekali ada acara kekeluargaan.

Di bulan Ramadhan, Reza dan teman-temannya sering mendapat pertanyaan mengenai apa rasanya puasa, tidak makan dan minum seharian, kenapa melakukan puasa, dari orang Jepang di sekitar mereka. “Kita harus siap menjelaskan ke mereka,” ungkapnya. Orang Jepang pun sangat toleran, tapi tetap profesional dalam bekerja.

Masjid di lingkungan apartemennya lumayan jauh, sekitar dua setengah kilo. Jika naik sepeda, sekitar tiga puluh menit hanya untuk pergi ke masjid, karena jalannya yang berbukit.  Tarawih di masjid tersebut di mulai pukul 20.30. Di masjid itu ada program tarawih satu hari satu juz, jadi bisa selesai shalat sekitar pukul 22.00 sampai 23.00. Imam salatnya kadang dari Mesir atau Pakistan. Akan tetapi, ketika pulang dari kampus telat, ia tidak sempat shalat di masjid, ia terkadang shalat bersama teman-temannya di apartemen. Selesai tarawih kebanyakan teman-temannya tidak langsung tidur, karena takut terlewat sahur. Jadi, mereka tidur sehabis shalat subuh. Mereka pun sering buka puasa dan masak bersama-sama. Reza mengakhiri Ramadhannya dengan shalat idul fitri di masjid tersebut. Akan tetapi, ia hanya mampir untuk shalat, karena kuliah tidak libur dan ia harus tetap ke kampus.

Cerita lainnya datang dari Bulan Fitri Amalia. Ia puasa Ramadan di Sonoma San Fransisco, USA, pada tahun 2012 saat masih SMA. Ketika ia datang pertama kali ke USA, sempat muncul perasaan takut tidak kuat puasa, juga minder karena ia berkerudung. Akan tetapi, ia selalu mengingat tujuan datang kesana, juga program exchange yang ia ikuti menekankan bahwa “we learn from different.

Bulan juga datang ketika musim panas, yang mengharuskannya berpuasa selama 17 jam, dari pukul 05.00 sampai 22.00. Di USA ia tinggal bersama keluarga angkatnya. Keluarganya ini memiliki rasa toleransi yang tinggi. Mereka mempunyai tradisi makan setelah pukul 18.00, tapi mereka menunggu Bulan buka puasa pukul 22.00 untuk menghargainya dan makan malam bersama. Teman-teman di sekolahnya pun sangat toleran. Meskipun Bulan muslim seorang diri, tapi tidak ada jarak antara minoritas muslim dengan mayoritas di tempatnya yang ia rasakan. “Intinya berbeda di keadaan yang baru dan kita coba terbuka gak salah kok malah asyik,” ucapnya. Teman-temannya juga aktif bertanya mengenai puasa kepada Bulan. Di sekitar tempat Bulan tidak ada masjid, juga tidak ada komunitas muslim.

Perasaan lelah menjadi tantangan sendiri ketika berpuasa di USA. Makanan buka ala Indonesia seperti kolak tak ada, namun orang tuanya di USA selalu menyediakan makanan istimewa. “Yang bikin betah masakan buatan orang tua di sana, mereka suka nyediain makanan yang pas mulu gak tau kenapa atau karena efek lapar juga ya hehe..” guraunya.

Masalah ketika Ramadan bagi Bulan bukan dari segi puasanya, tapi keadaan saat itu di mana ia baru datang dari Indonesia, jadi sedikit lelah. Nah, masalah terbesar baginya adalah melatih kesabaran, dengan cuaca panas dan tinggal di negara baru yang cukup berbeda dari Indonesia. Akan tetapi, ia juga berpendapat, “waktu lebih ke manage karena dipake setelah buka puasa, tarawih, tidur, sahur, jedanya cepet jadi gak kerasa.” Bulan diajak orang tuanya di USA pergi ke kedutaan besar Indonesia di San Fransisco. Hal tersebut bertujuan agar Bulan bisa berkumpul bersama orang Indonesia lainnya untuk merayakan Idul Fitri.

Cerita terakhir datang dari Ujang Purnama, seseorang yang menghabiskan Ramadhan di State Alaska, USA. Ia berpendapat bahwa sebenarnya puasa di sana tidak terlalu banyak hambatan, yang paling kentara adalah lama waktu puasanya saja yang berbeda dari Indonesia, karena ia pun datang ketika musim panas berlangsung.

Ia menyukai puasa di sana, karena bisa berbagi faedah puasa dengan orang-orang USA. Mereka banyak bertanya mengenai apa tujuan puasa, kenapa kuat tidak makan seharian, dan pertanyaan penasaran lainnya. Ketika sahur dan buka ia selalu dibangunkan oleh keluarga angkatnya. Meskipun ia tinggal tidak bersama orang muslim, keluarganya selalu menyiapkan makanan untuk sahur dan buka, juga mengingatkan untuk shalat.

Duka yang ia rasakan yaitu puasa sendirian. “Banyak yang ngajak buat buka aja, katanya ga ada yang liatin ini,” ungkapnya. Namun, ia bisa melawan godaan teman-temannya itu dengan mengatakan bahwa puasa bukan untuk kita tapi untuk pencipta kita, ia pun menjelaskan kepada temannya jika dengan puasa justru kesehatan kita meningkat, karena puasa adalah salah satu cara untuk menghilangkan racun-racun di dalam tubuh. “Mereka biasanya mengerti, meskipun masih aja dibecanda-becandain,” ucapnya.

Ia pun kerap kali rindu Indonesia. “Kangen karena suasananya beda. Gak pernah denger azan karena gak ada masjid, terus gak ada kultum, gak ada kolak pisang, dan lain lain,” paparnya. Nah, salah satu cara Ujang mengatasi kerinduannya akan Indonesia ini adalah dengan beberapa kali masak makanan nusantara untuk buka puasa.

Ternyata merantau puasa di negeri orang itu tidak buruk, teman-teman. Orang luar pun menyambut kita dan menghargai perbedaan yang kita miliki. Perbedaan lama puasa, masyarakat sekitar yang berbeda, budaya yang tak sama, dan cuaca yang ekstrem tidak menyurutkan semangat teman-teman kita berpuasa di luar negeri. Kita harus lebih bersyukur karena dapat berpuasa di Indonesia, dengan keadaan yang bisa dianggap lebih enak dibandingkan di luar negeri sana.

Well, selamat berpuasa teman-teman di mana pun kamu puasa, bersama siapa pun kamu berada.  (Diah Rodiyah Juhara)

3 Replies to “THIS TIME”

  1. Aku juga ramadhan di perantauan (Jatinangor), tapi cuma beberapa hari 🙂

  2. Salah nama (eh)

  3. Millati Syamila says: Reply

    btw mereka alumni fapsi atau cuman kenalan reporter? hegehehe

Leave a Reply